English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Abdillah, S.Pd. dan Ida Nurchaida, S.Pd.
(Alumni Jurusan PLS Fakultas Pendidikan Universitas Negeri Jakarta Tahun 2006).

Abstrak: Software Program Robot Berbicara Bahasa Indonesia (PRBBI) adalah suatu perangkat lunak yang dikembangkan menggunakan software program Visual Basic 6.0 untuk menjadikan suatu robot seakan memiliki kemampuan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dalam bahasa Indonesia, melakukan pekerjaan atau tindakan dengan perintah suara tanpa remot kontrol, dan juga memutarkan video dan/atau audio yang telah diset di dalam programnya. Tujuan dikembangkannya Software PRBBI adalah untuk menyediakan perangkat lunak berbahasa Indonesia yang nantinya dilengkapi perangkat keras bagi pembangun sebuah robot yang memiliki kecerdasan untuk membantu dalam proses belajar pada Pendidikan Luar Sekolah (terutama PKBM) sehingga akan mampu memotivasi warga belajar untuk mencapai tujuan belajarnya dalam hal keterampilan tanpa harus menghadirkan guru keterampilan khusus.

-------------------------------------------------------------

Pendidikan Luar Sekolah (PLS) ialah sebuah proses belajar mengajar yang diselenggarakan di luar sekolah formal. Yang termasuk pendidikan luar sekolah antara lain ialah: pendidikan non formal (pendidikan keterampilan) dan pendidikan informal (pendidikan dalam keluarga).

Pada pelaksanaan pendidikan non formal, seringkali penyelenggara kesulitan mengadakan pengajar keterampilan. Hal ini karena selain keterbatasan sumber daya juga penyelenggara banyak yang mengalami kesulitan sumber dana rutin untuk biaya pengajar keterampilan.

Pada dasarnya, pendidikan keterampilan dapat dilakukan secara mandiri. Yaitu dengan belajar tanpa guru, hanya melalui buku-buku dan lain sebagainya. Namun sayangnya, tidak semua orang mampu belajar secara mandiri. Terlebih bagi warga belajar “Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat” (PKBM) khususnya yang dilola oleh swasta. Dimana warga belajar PKBM umumnya adalah berasal dari masyarakat ekonomi bawah dan berpendidikan rendah. Oleh karenanya, mereka sangat membutuhkan pembimbing dalam belajar keterampilan. Padahal, banyak PKBM yang memiliki keterbatasan-keterbatasan dalam pengadaan pengajar keterampilan.

Ada banyak cara yang dapat dilakukan oleh PKBM dalam mengadakan guru atau pembimbing keterampilan, diantaranya melalui kerjasama dengan berbagai pihak, melalui telekonferen, dan lain sebagainya. Cara lain yang mungkin dapat dilakukan ialah dengan bantuan robot pengajar keterampilan. Cara inilah yang ditawarkan oleh peneliti Software Program Robot Berbicara Bahasa Indonesia (PRBBI) untuk mengadakan perangkat lunak yang dapat di-instal pada komputer robot sehingga dapat dijadikan sebagai media pengajaran keterampilan.

Syarat agar robot dapat dijadikan sebagai media pengajar keterampilan pada PKBM secara minimal adalah: 1) Robot mampu “memahami” kata-kata bahasa Indonesia; 2) Robot mampu menampilkan suara dan gambar (audio dan video) bahan ajar keterampilan. 3) Kemudahan pengoperasian, 4) Kesampaian pesan, 5) Keberfungsian seluruh sistem. 6) Kemudahan penanggulangan ketidak berfungsian sistem oleh pengguna.

Untuk membangun robot yang mampu memahami kata-kata dalam bahasa Indonesia dan mampu menampilkan audio video, diperlukan perangkat lunak. Dalam penyediaan perangkat lunak tersebut, yang paling tepat adalah dibangun dengan program visual basic 6.0. Dimana program visual basic 6.0 memiliki keunggulan-keunggulan yaitu: 1) software yang dibangun berorientasi obyek; 2) terdapat komponen activeX voice to text dan text to voice; 3) terdapat komponen multimedia sehingga dapat memunculkan suara dan gambar; 4) penggunaan logika if then yang mudah dalam penerapannya; 5) mampu melakukan pencarian data secara sequental dan random; 6) mampu melakukan read dan write untuk data base; 7) terdapat atribut dan komponen pengaktif pararel dan serial port sehingga dapat diprogram untuk interfacing untuk menggerakkan motorik robot; 8) mudah diaplikasikan pada komputer berbasis windows dan linux.

METODE

Penelitian pembuatan software PRBBI adalah penelitian pengembangan model yang dilaksanakan pada bulan Januari sampai dengan bulan September 2007 di “Laboratorium” Gema IPTEK Mandiri – Yayasan Gema Mandiri Bangsa Jakarta. (Sedang jurnalnya di tulis pada bulan Juni 2009 setelah melalui proses pendaftaran Hak Atas Kekayaan Intelektual selama 18 bulan pada Dirjen Haki Departemen Hukum dan Ham Republik Indonesia dan telah memperoleh Setifikat Hak Cipta dan Hak Paten pada bulan Maret 2009).

Penelitian ini dilaksanakan melalui beberapa tahapan, yaitu:
Tahap 1: Pemahaman bahasa pemograman visual basic 6.0
Tahap 2 : Pembuatan perangkat keras interfacing dengan relay dan switching elektronik;
Tahap 3: Pembuatan Video Keterampilan Merakit Komputer dan Pemrograman Dasar visual basic;
Tahap 4: pembuatan audio suara robot;
Tahap 5: Menginventarisir Source Code VB Open Source dari Internet dan File DLL pendukung yang dapat dipelajari dan dikembangkan untuk digunakan pada PRBBI
Tahap 6: Pembuatan Model Tampilan;
Tahap 7: Membuat Source Code VB PRBBI;
Tahap 8: Membuat Hardware Robot untuk Uji Fungsi Software PRBBI

Pada Tahap 1:

Berawal dari sulitnya mencari programer yang mampu membuat software robot berbicara bahasa Indonesia, peneliti mempelajari bahasa pemrograman Visual Basic 6.0 (VB) dari buku-buku dan internet. Akhirnya selama satu bulan di bulan Januari 2007, peneliti mampu memahami bahasa pemrograman untuk membuat software robot berbicara bahasa Indonesia (PRBBI).

Pada Tahap 2:

Dengan program VB interfacing, peneliti menjumpai bahwa output pada pararel port komputer (PC) pada pin 2 – 8 mengeluarkan arus listrik dc sebesar 5 Volt yang cukup untuk menyalakan led. Keluaran listrik itu berbentuk kode binner. Tegangan listrik tersebut tentu dapat menggerakkan relay 6 volt. Namun karena arusnya tidak cukup kuat (terlebih dari sumber komputer laptop). Maka peneliti membuat rangkaian switching transistor sebanyak 8 buah. Sehingga dengan switching itu, arus 5 volt dapat menggerakkan relay 12 volt dengan pada kolektor transistor diberi tegangan 12 volt.

Karena output pararel port berbentuk kode binner 8 digit, sesungguhnya dapat dikonversi untuk menggerakkan 255 buah saklar. Hanya saja kerumitan rangkaian digital dari 8 digit kode binner menjadi 255 desimal, akhirnya peneliti membagi 2 dari 8 digit, yaitu 2 x 4 digit binner. Sehingga diperoleh 2 x 15 output desimal.

Selanjutnya dengan menggunakan 17 buah relay elektronika, akhirnya dari 2 x 4 digit binner diperoleh 30 buah saklar yang dapat diaktifkan melalui komputer. Saklar tersebut untuk mengaktifkan motorik robot yaitu: kepala putar kanan dan kiri; kepala tengok bawah dan atas; pangkal lengan (kiri kanan), siku lengan (kiri kanan), capit/jari tangan (kiri kanan), gerak maju mundur (2 motor kiri kanan pada kaki robot).

Pada Tahap 3:

Peneliti melakukan perekaman audio video belajar merakit komputer. Hasil rekaman kemudian diedit menjadi perbagian dan keseluruhan.

Selanjutnya dengan menggunakan program “Camtasia” peneliti merekam video screen komputer tentang belajar pemrograman dasar Visual Basic.
Pada Tahap 4:

Peneliti membuat rekaman suara robot. Pada awalnya suara robot ini menggunakan komponen text to voice yang terdapat pada basic program windows XP. Namun karena artikulasinya kurang jelas untuk bahasa Indonesia, akhirnya penulis merekam sendiri suara berbentuk file.wav dengan konten jawaban pertanyaan dasar umum, seperti nama, alamat, tentang agama islam dasar, pekerjaan, selamat pagi/siang/sore/malam, hari dan tanggal, dll.

Pada Tahap 5:

Peneliti menginventarisir Source Code VB Open Source seperti interfacing, voice recognition, voice to text, text to voice, sequent, random, timer, multimedia. Juga File.DLL seperti inputoutput.DLL dari buku dan internet. Guna inventarisir ini adalah untuk peneliti pelajari bagaimana membangun program perintah suara bahasa Indonesia dengan komponen Voice Recognition pada bahasa program VB. Pada proses belajar ini yang tersulit. Karena pada saat peniliti mengembangkan PRBBI belum ada program voice recognition bahasa Indonesia (setidaknya yang penulis ketahui). Namun akhirnya peneliti dapat temukan caranya, yaitu memanfaatkan program voice recognition untuk penerapan bahasa Indonesia dengan memodifikasidan merekayasa teks suara logat english ke logat Indonesia. Misalnya: untuk “rumah” dengan teks “roomuh”, “assalamu alaikum” dengan teks “us-saa-lum-moo-alaaekoom”, dan lain-lain.

Pada Tahap 6:

Peneliti membuat dasar tampilan yang mampu menampilkan layar video yang dapat diminimalis dalam keadaan default dan fullscreen (multimedia player), kemudian peneliti diskusikan kebeberapa orang untuk menentukan tampilan yang paling banyak disukai orang. Dari 20 orang, terdapat 18 orang menyukai bentuk tampilan yang digunakan sekarang untuk Software PRBBI.

Pada Tahap 7:

Pada tahap ini, peneliti menyusun source code yang akan dikompile menjadi PRBBI.exe yang untuk diterapkan sebagai Software Program Robot Berbicara Bahasa Indonesia yang berhasil penulis kembangkan.

Pada Tahap 8:

Tahap akhir dari penelitian pengembangan model Sofware Program Robot Berbicara Bahasa Indonesia (PRBBI) adalah pengujian fungsi. Pengujian ini mencakup aspek-aspek: 1) user friendly/kemudahan pengoperasian; 2) keberfungsian sistem; 3) kesampaian pesan; 4) penanggulangan mal fungsi robot oleh user.

Pengujian ini dilakukan terhadap 50 orang warga belajar “PKBM” Gema Mandiri Bangsa berpendidikan SLTA dengan umur berkisar 18 – 35 tahun. Pelaksanaan pada waktu yang berbeda bagi setiap orang dan hanya diberikan buku panduan pengperasian/penggunaan software pada komputer tanpa robot dan pada komputer robot.

Setelah mengoperasikan Software PRBBI peneliti melakukan wawancara dan evaluasi kemampuan merakit komputer bagi peserta uji.

Hal-hal yang diamati oleh peneliti dalam proses pengujian fungsi software PRBBI terhadap siswa/warga belajar ialah: 1) perhatian (attention), 2) keterkaitan (relevance), 3) kepuasan (satistaction), dan 4) keyakinan (confidence).

HASIL

1) Kemudahan Pengoperasian:
- 45 orang (90%) menyatakan mudah pengoperasian PRBBI pada komputer tanpa robot;
- 50 orang (100%) menyatakan lebih mudah pengoperasian PRBBI dengan robot;
- 37 orang (81,5%) menyatakan sulit mencari kata yang tepat untuk pertanyaan. Sedang 13 orang (18,5%) menyatakan mudah mencari pertanyaan yang tepat.

Bagi sulit karena mereka tidak menggunakan pertanyaan yang umum dan bahasa Indonesia baku untuk bertanya. Itu terjadi karena dalam bahasa Indonesia terdapat bermacam-macam jenis pertanyan untuk satu jawaban. Misalnya: “Nama” dengan pertanyaan: siapa nama mu?, nama mu siapa?, namanya siapa?, nama?, kamu siapa?, siapa sih nama mu?, dan seterusnya. Hal tersebut akan menjadi bahan pertimbangan peneliti dalam penelitian pengembangan software PRBBI versi selanjutnya.

2) Keberfungsian Sistem:
- Dari hasil uji coba setelah user menemukan kata yang tepat untuk bertanya pada komputer dan robot, seluruhnya (100%) semua fungsi berjalan sebagai mana mestinya. Artinya fungsi-fungsi berjalan baik.

3) Kesampaian Pesan:
- 100% peserta seluruhnya dapat merakit komputer seperti yang ditampilan dilayar monitor komputer tanpa robot dan komputer robot.
- 100% peserta dapat memahami kata dan gambar yang ditampilkan oleh robot/komputer.

4) Penanggulangan Mal Fungsi oleh User:
- Sering kali robot atau komputer tanpa robot berkata-kata atau pada robot bergerak sendiri. Hal tersebut terjadi karena suara bising dari luar “diterjemahkan” oleh robot sebagai triger perintah. Sehingga robot tiba-tiba berkata seperti menjawab pertanyaan atau bergerak sendiri. 100% user mengatasi dengan mematikan mikrofon. Namun peneliti menggunakan cara lain, yaitu dengan menggunakan mikrofon wireles yang volumenya dibuat mendekati minimal (mikrofon tidak sensitif) sehingga hanya suara yang dekat saja yang daat ditangkap oleh mikrofon.

Selain wawancara, peneliti juga melakukan observasi. Berdasarkan hasil observasi diperoleh beberapa informasi antara lain: 1) suasana belajar cukup dinamis antara siswa dengan robot atau komputer dan terjadi proses belajar interaktif antara siswa dengan mesin. 2) Siswa tampak lebih aktif. Namun, masih ada terdapat siswa yang lebih terfokus pada kekagumannya terhadap kemampuan robot/komputer dari pada materi belajar. Sehingga siswa tersebut berulang-ulang memerintahkan dengan suara untuk memutarkan materi pelajaran merakit komputernya lebih banyak dibandingkan siswa lain.

0 comments :

Post a Comment

Popular Post